Custom Search

Rabu, 28 September 2011

Percakapan Tanpa Muka

Ketika kebencian tak lagi kau beri ruang dihati. Ketika itu pula, cemburu berwujud nikmat. " sayangnya cemburu itu tak memiliki pintu, dan aku terpenjara disana.

" Walaupun tak memiliki pintu Namun dindingnya rapuh, terkikis saling percaya dan dengan keterbukaan iya kan terhempas..

" Jangan hanyut menangani teka teki langkahku karena sepiring tulus yang lekat ini berlalu dicelah matamu maka... silahkan berpesta di altar perseteruan...

" Aku tak akan bermain teka teki, entah dengan siapa saja Sebab setiap nafasku menyisakan tanya? Layaknya pelajar yang gila akan pengetahuan Hingga ia tak lagi mengenal contekan atau jalan sejenisnya....

" sayangnya pensilmu patah, dan kau tak mengingat satupun angka. Lalu, aku mendengar kau meluluh lantahkan alasan tanpa tersisa

" Alasan yang mana? Membuat sesuatu lebih baik. oh.. tidak. Kemudian ia memandangku, dengan penuh tanya. Serta merta, pensil dalam kepala ku patah dan ia berlalu.

" Cukup... silahkan mengeruhkan diri dan lenyaplah dari balik perisai yang kau tanam. Jurang ini kian kasat mata... Maka jangan lagi cengeng dalam anganku

" Tiada pernah rasa cukup memasuki pintu kalbu. Karena peradaban tiada penah berhenti, menetap pada gedung atau istana. Disana, kau lihat tangan-tangan dan doa-doa yang mereka ucapkan menggelontarkan uang recehan.

" Lantas, apa kau turut bertekuk lutut menjadi budak cinta? terus tergilas perih... menajamkan amarah... hingga sayap ini kian remuk

" Aku justru inginkan cinta yang tak berambisi, menguasai jiwa ku ataupun jiwa mu. sebab cinta bukanlah milik ku ataupun milik mu. Jika kau dengar merdu camar mengalun ketika pagi menjemput mu dari mimpi dan kau lihat melalui jendela, begitu bahagianya hari ini. Keesokan harinya pun terjadi kembali, begitulah selanjutnya. Kemudian muncul ingin mu tuk memelihara si camar, kau coba menangkapnya namun misi mu gagal dan si camar tak pernah kembali.

" Terasing... tanpa setitik ambisi cinta... itulah aku... dan yang terpampang bukan sayap camar apalagi rusuknya... lalu... bagaimana sebilah cemburu ini tetap melilitmu?

" Teruslah kau selami samudera cinta, membuat kau terasingkan. Dengan bangganya berkata "tiada cemburu menyiksa". Jika tiada cemburunya dirimu, maka lihatlah apa yang telah terjadi di rumah para pemahat-pemahat komunisme. Dimana harta pribadi mu diambil dan dimiliki oleh penguasa, Apakah ingin hal ini terjadi dengan cinta mu, Kecemburuan ku, bagian dari nikmat perjalanan cinta, jadi kenapa masih kau pertanyakan adanya.

" terserah... aku cukup renta bermain dengan bait-bait ini mari kita selesaikan saja....

" Aku tak punya kuasa tuk menyelesaikannya dan aku tak bermain-main. Jika kau sudah penat bersama bait-bait ini, bolehlah kau tinggalkan. Entah... aku tak tahu berapa lama kan kau tinggalkan bait-bait ini.. sejenak ataukah selamanya.. itu pilihan mu. 

MERDEKA...MERDEKA

By. Wong alit dan c-yakuw

Kamis, 22 September 2011

Mengunjungi Mu


Bisakah sekiranya kau tuangkan anggur kedalam cangkir kecil ku ini
Aku ingin mabuk dihadapan mu
Masuk kedalam skematika kehidupan mu

Dan aku tahu,
Aku tak layak berada dalam jamuan mu

Aku berontak,
Dalam sanubari surat mu masih ada
Walau usang terabaikan

Aku ingin mengunjungi mu
dan mabuk bersama mu.

by. Wong alit

Kamis, 15 September 2011

Suasana Hati


Dalam buku tasauf modern, Hamka menerangkan sekelumit mengenai suasana hati, yaitu sebagai berikut: 

Segala sesuatu ada baik dan buruknya. Maka sekiranya kita melihat alam atau manusia dengan mata kebencian, barang yang tidak tercela tidak akan terdapat dalam alam. Matahari begitu bermamfaat membawa terang. 

Si pembenci tak dapat menghargai matahari karena panasnya. Bulan begitu indah dan nyaman, si pembenci hanya ingat bahwa bulan itu tidak tetap memberi cahaya, kadang-kadang kurang. Bagi pembenci, tidak ada kebahagiaan. Tidak ada pengarang yang pintar, tidak ada pemimpin yang cakap, tidak ada manusia yang baik, semuanya cacat dan salah.

Orang yang masuk kedalam sebuah rumah yang indah, keadaan rumah itu akan dipandang menurut ukuran hatinya ketika ia masuk, kalau masuk dengan kebencian, susunan dan aturannya tidak kelihatan indah. Matanya tertuju ke dinding, melihat kalau-kalau disana ada jaring laba-laba. Matanya tertuju ke dapur, kalau-kalau ada piring yang tidak dibasuh. Bila dia keluar, aib itulah yang tinggal dalam hati dan matanya. 

Berapa orang mendengar pidato, pidato yang didengarnya itu akan berkesan ke dalam dirinya menurut ukuran penghargaannya. Orang yang datang hendak mencari-cari kalau ada pidato itu yang salah, itulah yang dijadikan modal untuk menjelekkan dan membenci yang berpidato.    

Sumber: Buku M. Shodiq Mustika dan Rusdin S. Rauf, 2008. “Keajaiban Shalat Tahajud” QultumMedia.


Rabu, 14 September 2011

'Lover of Wisdom'


By: M. Agus Syafii

Secara psikologis orang yang sehat adalah orang yang mampu mendermakan cinta pada sesamanya. Sedangkan orang yang hatinya dipenuhi rasa permusuhan, dengki, cemburu dan kebencian semuanya merupakan beban mental yang menjurus pada penyakit kejiwaan bersifat patologis. Dalam Islam, penghayatan kasih sayang digunakanlah istilah ridha. Pengertian ridha adalah sikap yang didasari pengetahuan, kesadaran dan keyakinan bahwa kasih sayang Allah meluap memenuhi ruang dan waktu.

Sesungguhnya hidup kita dalam lingkup kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Sikap ridha akan selalu berpikir positif terhadap hidup karena dibalik fragmen kehidupan terkadang ada adegan-adegan yang pahit dan buram mekipun terkandung hikmah dari pancaran kasih sayang Allah.

Bagi orang yang mencapai derajat ridha akan selalu melihat hikmah dibalik musibah maupun cobaan. Setiap musibah menyimpan dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, Allah melimpahkan kasih sayangNya. Dan kemungkinan kedua, karena kelalaian manusia itu sendiri. Dengan demikian ritme hidup kita ditandai dengan dialektika rasa syukur dan sikap sabar. antara harapan dan kecemasan, antara kelegaan dan penyesalan.

Namun semua itu bagi orang yang ridha akan dihadapinya dengan sikap optimis dan pandangan positif karena begitu yakinnya akan kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta'ala yang dibentangkan melalui sayap Rahman dan RahimNya dan disisi lain melalui tawaran taubat dan maghfiroh atau ampunan.

Menurut al-Quran dijelaskan bahwa kehidupan dunia itu baik tetapi jauh lebih baik kalau kebaikan di dunia dijadikan wahana atau tangga untuk menuju kehidupan akherat yang lebih baik. 'The will to love' yang secara intrinsik dimiliki oleh kita akan menyesatkan kalau hanya mencintai yang fana atau semu.

Maka bentuk ancaman dan perintah Allah yang tertuang di dalam kitab suci semuanya dalam konteks kasih sayang Allah untuk menyelamatkan kita agar tidak terjatuh menjadi hawa nafsunya sendiri atau menjadi hamba makhluk yang lebih rendah atau sama derajatnya dengan diri kita.

Rasa keterasingan, kesunyian ditengah keramaian, merasa kesepian dalam kesendirian akan terkikis secara emosional apabila kita memiliki hubungan yang hangat dengan Yang Maha Kasih. Ketiadaan hubungan kepada yang Maha Kasih inilah yang menimpa banyak orang sehingga begitu mudahnya terseret pada situasi putus asa bahkan sampai bunuh diri.

Berdasarkan survei penyebab bunuh diri ditengah masyarakat justru bukanlah masalah yang teramat berat. Diantaranya karena kekecewaan akibat putus cinta, perselisihan rumah tangga, gagal dalam karier telah membuat seseorang melakukan tindakan bunuh diri. Hal ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman seseorang dalam menghayati hidup.

Dalam pandangan Islam, mereka telah terperosok dalam 'pinggiran' dimensi spiritual yang mampu menangkap dan merasakan kehadiran Allah Subhanahu Wa Ta'ala dalam dirinya tidak bisa berfungsi. Hatinya telah tertutupi oleh nafsu bagi masuknya cahaya dan kasih sayang Allah sehingga mereka juga kehilangan kasih sayang yang ada pada dirinya.

Demikianlah bila dunia hanya pendekatan sistem, teknis dan teknologi semata akan memunculkan kehidupan yang kering, mekanik dan tidak manusiawi. Produk sistem dan teknologi tanpa visi cinta dan kasih sayang Ilahi Robbi maka menjadikan hidup kita tak ubahnya seperti robot, kesepian dalam keramaian, kesendirian tak berteman.

Paradigma kasih sayang akan menuntun kita sikap arif dan konsisten untuk mengembangkan potensi kemanusiaan maka realitas dunia tampak begitu indah sekaligus challenging, bukan fringtening.

Seorang Mukmin adalah 'Lover of Wisdom' atau Cinta Kearifan. Karena cinta kearifan dan semangatnya pada kemanusiaan maka Rasulullah Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Salam semakin nampak tegar dan anggun ditengah cobaan dan tantangan yang selalu menghadang dan mengitarinya. Kita tentunya patut meneladani Rasulullah sebagai "Lover of Wisdom" Lebih peduli dengan persoalan-persoalan kemanusiaan disekeliling kita. Insya Allah.
Wassalam, M. Agus Syafii

Selasa, 13 September 2011

Cintanya Tak Seindah Impian


Cintanya tak seindah impian, membuatnya terluka perih. Air matanya telah mengering. Sebagai seorang istri, hatinya terpukul ketika mengetahui suaminya memiliki cinta pada perempuan yang lain. Meskipun suaminya menyadari kesalahan dan telah bertaubat serta meminta maaf namun rasa perih terluka, marah dan kecewa masih berkecamuk dihatinya Itulah sebabnya rumah tangga yang dibina seperti api dalam sekam. 

Terlihat harmonis dari luar, tetapi di dalam berlangsung perang dingin. "Setiap teringat penyelewengannya, hati saya bagai tersayat perih. Bila dia tersenyum, saya membayangkan senyuman itu dilontarkan untuk perempuan lain. Setiap dia membelai, saya terbayang suami saya membelai perempuan lain, Emosi saya tertahan dan setiap saat meledak." tuturnya ditengah rasa sakit hati yang terluka. Ditengah kegalauan, dirinya berkenan bershodaqoh ke Rumah Amalia, memohon kepada Allah agar diberikan ketenangan hati. Allah menjawabnya, tiba-tiba dirinya merasa bersyukur bahwa cobaan untuk keluarganya datang dari sang suami sehingga bila dia memaafkan bukan hanya keluarga yang menjadi utuh tetapi dia juga mendapatkan pahala. 

Dirinya teringat bagaimana Rasulullah yang begitu mulia, mau memaafkan kesalahan orang lain. Keikhlasannya untuk memaafkan dan menerima ketetapan Allah, tiada cobaan yang diberikanNya melainkan untuk kebaikan baginya dan keluarganya. Serta tidak ada cobaan yang diberikan oleh Allah yang tak akan sanggup dijalaninya. Akhirnya hubungan dirinya dan suaminya telah pulih kembali, sebagai seorang istri, dia bersyukur bahwa Allah telah memberikan petunjuk pada suaminya sehingga menyadari kesalahannya dan mau bertaubat. "Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebaikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh" (QS. an-Nur :22). 

By: M. Agus Syafii 

Jumat, 02 September 2011

Cinta Dengan Sedikit Penjelasan

Ternyata cinta itu rumit untuk dijelaskan.
Bukan seperti hujan yang turun hari ini yang terlah diperkirakan sebelumnya oleh ramalan cuaca di stasiun-stasiun televisi. atau rasa lapar yang dapat diobati dengan makan.
cinta itu, cukup ku miliki dengan sedikit penjelasan.




 
 

Sponsor

Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

IKLAN BLOGGER