Custom Search

Jumat, 04 Januari 2013

Robohnya Surau Kami

Robohnya Surau Kami adalah sebuah kumpulan cerpen sosio-religi karya A.A. Navis. Cerpen ini pertama kali terbit pada tahun 1956, yang menceritakan dialog Tuhan dengan Haji Saleh, seorang warga Negara Indonesia yang selama hidupnya hanya beribadah dan beribadah. 

Cerpen ini dipandang sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia[1]. Buku Robohnya Surau Kami ini berisi 10 cerpen: 1. Robohnya Surau Kami, 2. Anak Kebanggaan, 3. Nasihat-nasihat, 4. Topi Helm, 5. Datangnya dan Perginya, 6. Pada Pembotakan Terakhir, 7. Angin dari Gunung, 8. Menanti Kelahiran, 9. Penolong, dan 10. Dari Masa ke Masa. 

Di dalam setiap cerpennya di buku ini, A.A. Navis menampilkan wajah Indonesia di zamannya dengan penuh kegetiran. Penuh dengan kata-kata satir dan cemoohan akan kekolotan pemikiran manusia Indonesia saat itu - yang masih relevan pada masa sekarang ini. 

Cerpen "Robohnya Surau Kami" bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau (masjid yang berukuran kecil) di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia - si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun.Tapi, saat "hari keputusan", hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka, "kamu tinggal di tanah Indonesia yang mahakaya raya,tapi, engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniyaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang." Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami memberikan kesan-kesan yang berbeda-beda pada tiap temanya. Salah satunya, kesan dari saudara Harun Harahap, menurutnya 

Robohnya Surau Kami: Dunia memang tempat sementara untuk menuju akhirat tapi Allah takkan menghidupkan manusia di dunia tanpa tujuan. Seimbangkanlah dunia dan akhirat, karena bukankah Allah telah berfirman:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi...” [QS. al-Qashash (28) : 77]
 
Anak Kebanggaan: Tidaklah salah berangan-angan. Yang salah adalah tak mengikhlaskan angan kita setelah berusaha dan berdoa!
 
Nasihat-nasihat: Ketika kau merasa telah mengetahui segalanya, maka kau takkan lagi bisa mendengar orang lain.
 
Topi Helm: Tahukah seberapa besar kekuatan simbol kekuasaan? Ia bisa membunuh, hai teman..
 
Datangnya dan Perginya: Apakah artinya taubat? Berhentikah cobaan setelah ku bertaubat? Tuhan, sepertinya ku kan kalah...
 
Pada Pembotakan Terakhir: Evil do exist, moreover they look better than us.
 
Angin dari Gunung: Cacatku karena untuk membela negaramu, tapi kau tak terima cacatku sesudahnya. Kau anggap diriku sampah tak berguna!
 
Menanti Kelahiran: Mendengarkan suara hati memang sulit
 
Penolong: Di dunia ini sebenarnya siapa yang tidak gila?
 
Dari Masa ke Masa: Ya benar, anak muda sekarang terlalu kekanak-kanakan. Apa sih yang anak muda bisa kerjakan? "Mungkin membenahi masalah yang ditimbulkan anak muda zaman dulu!" 


Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padang, Sumatra Barat, 17 November 1924 – meninggal 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis 'Sang Pencemooh' adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan tapi jika dikasih memilih ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu. 

Artikel Terkait

Posting Komentar

Sponsor

Daftar di PayPal, lalu mulai terima pembayaran menggunakan kartu kredit secara instan.

IKLAN BLOGGER