"Cinta itu ialah hakikat, tak seorang pun yang tak memiliki cinta. namun kenapa cinta tak berharga. disini, ditempat ini cinta telah dikorupsi hingga menghasilkan aborsi dan aku enggan tuk bercinta"
Custom Search
Sabtu, 30 Agustus 2008
Problematika Cinta
I
Cinta, memanggil manja
Menghibur dalam kesunyian
Bernyanyi pada keramain
Kemudian berlalu demi cintanya
II
Seperti malam yang menggerayangi jiwa
Peluh cinta yang merana
Mendera dipelupuk mata
Para pecinta bertanya? Apakah ini cinta.
III
Salahkah, ketika cinta tak lagi menyatu
Diantara para pecinta, beterbangan mencari bandara cintanya
Mendaratkan cintanya pada kelain hati
Sementara, sebagian dari para pecinta tak merelakan
Mengacaukan segala usaha, agar tak ada cinta yang lain
Para pecinta termenung, begitukah cinta
By. Wong alit
Jumat, 29 Agustus 2008
Kecemasan Si Penganggur
Kami ingin bekerja, teriak mereka
Kami tak ingin seperti binatang, hanya mencari makan
Kami manusia yang ingin bekerja
Izin kan kami tuk bekerja
Jangan jadikan kami sebagai binatang
Dapatnya cuman memenuhi isi perut
Kami manusia yang menginginkan kesejahteraan
Bukan hanya jatah perut yang kami minta
Tapi kenyamanan,ketentraman dan keamanan dalam pekerjaan
By.Wong alit
Kamis, 28 Agustus 2008
Jembatan Kehidupan
Perjalanan ini, jalan pengharapan
Benar dan membenarkan
Perjalanan ini, jalan yang menakutkan
Sesat dan menyesatkan
Perjalanan ini, jalan penuh cobaan.
Bertambah sempit ataukah semakin lapang melangkah
Perjalanan ini, jalan sirathalmustaqin
By. Wong alit
Selasa, 26 Agustus 2008
Doa Seorang Sahabat
Raab.....
Selimuti istirahat saudara ku ini dengan kemuliaan-Mu
Raab.....
Hapuskan sgala kesusahan dari hatinya
Raab.....
Bangunkan ia saat tahajud-Mu tiba
Raab.....
Rahmati ia saat subuh-Mu datang menyapa
By. Sahabat
Senin, 25 Agustus 2008
Nasehat Para Pengabdi
(Bagian Ke Delapan)
Jika Allah membukakan pintu makrifat bagimu, jangan hiraukan mengapa itu terjadi sementara amalmu amat sedikit. Allah membukakannya bagimu hanyalah karena Dia ingin memperkenalkan diri kepadamu. Tidakkah engkau mengerti bahwa makrifat itu adalah anugerah-Nya kepadamu, sedangkan amal adalah pemberianmu? Maka betapa besar perbedaan antara persembahanmu kepada Allah dan karunia-Nya kepadamu!
......... kita tidak bisa mengukur seluruh kemurahan Allah, atau membandingkannya dengan pengorbanan atau amal-amal saleh kita. Apa pun yang kita persembahkan kepada Sang Pencipta tidaklah ada artinya bila dibandingkan dengan apa yang telah Dia karuniakan kepada kita, yakni fitrah dan cahaya ruh. Sesungguhnya Dia adalah pencita dan pemelihara segala sesuatu yang ada di dalam dan di sekitar kita, yang terlihat maupun yang tak terlihat. Tindakan dan amal kita hanyalah tanda dan pendahuluan menuju penyingkapan dan pertolongan, yang sesungguhnya sudah ada namun kita teralingi dari melihatnya.
(Ibn `Atha`illah dalam AL HIKAM)
Bunga-Bunga Hias
Di atas meja, asbak sudah tak berabu
Putung-putung rokok tak lagi merepotkan ibu
Setelah berita itu hinggap di daun telinga
Untaian kata bernada gembira mengalir dari muara
Dengan keras menyuarakan kata haram
Begitulah kejadiannya
Asbak sudah tak ada di atas meja
Yang ada hanya bunga-bunga hias berdiri tegak
Ranting-ranting kecilnya terlihat tegar
Karena tak ada lagi asap rokok yang menyesak dada
By. Wong alit
Kamis, 21 Agustus 2008
Kenapa Ayah Pergi
Ia pergi meninggalkan diri Ku dan kedua anak Ku, walaupun hanya untuk beberapa tahun, kehangatan dalam keluarga Ku seakan telah berkurang, suhunya lambat laun semakin menurun bahkan dingin telah biasa kurasa dalam tiap-tiap hari Ku. Anak-anak ku selalu bertanya, kenapa Ayah pergi meninggalkan Kita? Selalu pertanyaan itu yang terucap oleh meraka, disaat malam mengembalikan ingatan mereka tentang ayahnya. Saat sore tiba, anak-anak ku menanti kedatangan ayahnya sehabis kerja seharian sebagai buruh pabrik di negeri ini, di depan pintu rumah dengan wajah berseri bersama permen ditangan. Ketika dongeng si kancil mengajak mereka menutup mata takala ia masih ada memberikan kehangatan pada keluarga ini.
Aku mencoba tuk bersabar atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak ku, meskipun aku merasakan sebagaimana perasaan anak-anakku yang kehilangan akan kasih sayang seorang ayah walaupun hanya untuk beberapa waktu, tetapi yang namanya hilang tetap saja hilang dan kemana anak-anak ku hendak mendapatkan akan kasih sayang seorang ayah saat ia pergi dan apakah mungkin kasih sayang itu dapat dilipatgandakan dikemudian hari saat ia kembali. Aku rasa itu tak mungkin dan tak akan terjadi, biarkanlah pertanyaan anak-anak ku terbang bersama awan melintasi lautan dan samudera agar Ayahnya mengingat keadaan kami sekeluarga yang ditinggalkan olehnya yang pergi mengais batangan-batangan Ringgit dinegeri seberang tuk cepat kembali dan berkumpul lagi.
Telah tiga tahun ia berlalu dan ku rasa Pak Pos telah tujuh bulan tak kunjung tiba memberikan kabar berita tentang dirinya, aku bertanya pada Bapak yang bermukim di seberang kali Jelabat, Beliau tak tahu kabar anaknya itu, dengan wajah sedikit mengkerut dan telah kriput, selanjutnya Bapak menceritakan kalau ia mendengar berita di radio saat sehabis sholat subuh, bahwasanya Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia yang disinyalir illegal dideportasi besar-besaran oleh pemerintah Malaysia. Aku bingung dan terdiam sesaat dalam hati berharap mudah-mudahan Kau baik-baik saja disana.
Sementara berita mengenai deportasi besar-besaran yang dilakukan oleh Pemerintah Malaysia semakin menyesakkan dada, Ku dengar mereka yang bekerja disana menjadi tenaga kerja illegal bersembunyi dari buruan para polisi-polisi Malaysia, mereka bersembunyi di hutan-hutan dan perkebunan-perkebunan. Entah bagaimana dengan nasib dirinya, apakah Ia juga ikut bersembunyi dihutan-hutan bersama teman-temannya, atau Ia telah tertangkap oleh polisi-polisi Malaysia terebut.
Sore itu, sehabis memandikan kedua anak ku “Tika dan Praja” yang selalu berharap akan datangnya kembali ayah mereka ke rumah ini, meraka yang masing-masing berusia 8 dan 7 tahun, Tika duduk dibangku Sekolah Dasar kelas 2 dan Praja duduk dibangku kelas 1. Beberapa saat berlalu dan aku masih menyampoi rambut Tika dan Praja telah memakai handuk kecilnya, Terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang bersama lantunan salam. Ku jawab salamnya dan Ku ikut sertakan ucapan “sabar tunggu dulu”.
Setelah anak-anak ku rapi dengan pakaian dan bedak diwajahnya, lekas Ku langkahkan kaki menuju pintu depan. Ku buka pintu tersebut dan terhenyak diriku melihat seorang laki-laki yang tak lain adalah mas Parjo, teman suami Ku, dimana mereka berangkat bersama-sama ke Negeri Jiran pada bulan Desember tiga tahun silam. Serentak Ku bertanya pada dirinya tentang keadaan suamiku tanpa terlebih dahulu mempersilahkan dirinya masuk ataupun duduk.
Suami ku sekarang dimana Mas? Dengan pelan sekali suara Ku merambat bersama gelombang yang berada di sela-sela jarak tempat diriku berdiri dan mas Parjo yang berada dihadapan Ku kira-kira satu atau dua langkah kaki. Ku sangdingkan jari telunjuk ini ketengah-tengah bibir dan kuharap mas Parjo mengerti tanda yang sedang ku perlihatkan dihadapannya itu.
Kau seperti dirundung kecemasan Tik, tanggap mas Parjo. Ia mas gimana Atik tak cemas kalau Atik tak tahu kabar mas Tirta, apalagi ditambah dengan pertanyaan anak-anak yang ingin tahu kenapa ayahnya pergi. Ku terdiam sejenak dalam kerisauan ini padahal kerisauan ini sebentar lagi mungkin akan sirna terobati oleh kehadiran mas Parjo yang membawa kabar dari suamiku. Kemudian Ku lihat mas Parjo sedikit kesal dalam kondisinya yang tegak berdiri dihadapan ku. Serta merta Ku persilahkan mas Parjo tuk duduk dibangku yang berada diteras rumah. Ku tinggalkan mas parjo tuk sesaat guna menyuguhkan segelas kopi manis dan beberapa potong mantang goreng.
Setelah segalanya tersajikan di meja tempat mas Parjo duduk. Akupun ikut duduk disamping mas Parjo yang dibatasi oleh meja tempat kopi manis dan beberapa mantang goreng berada Ku kembali bertanya tentang nasib Suami ku disana.. Di negeri Jiran yang menjanjikan berjuta harapan bagi orang-orang seperti Kami, orang-orang yang tak terpandang dinegeri sendiri. Orang-orang negeri ini hanya dapat menjadi buruh sementara Investor-Investor Asing menjadi majikan di negeri ini dan parahnya lagi pemerintah negeri ini duduk dalam damainya di gedung-gedung dimana keringat-keringat bangsa ini terkuras dan mengalir hingga menjadi lautan kekecewaan orang-orang seperti kami.
Mas Parjo pun mulai bercerita tetang nasib mas Tirta disana, ia memulai dengan raut wajah yang seakan-akan menenangkan lawan bicaranya, dengan suara yang berusaha membuat hati ku damai dan bahkan seakan tidak terjadi masalah. Gini Tik, mamas mu saat ini belum dapat pulang, karena kontraknya belum berakhir dan kontraknya itu berakhir Enam bulan lagi dan gaji Tiga bulan kemarin belum diterimanya, jadi Ia menunggu disana untuk menerima uang gajiannya itu dan ditambah lagi dengan janji pemilik pabrik tempat Ia bekerja, yang menjanjikan kepadanya tempat tuk bersembunyi dari kejaran para polisi-polisi Malaysia tersebut, jadi kemungkinan besar nasibnya tidak seperti teman-temannya yang lain. Kamu patut bersyukur dengan nasib mamas Mu walaupun gajinya yang tiga bulan itu belum dibayar tapi pemilik pabrik tersebut memberikan tempat persembunyian bagi pekerjanya dari kejaran polisi-polisi Malaysia. Ku terbuai dengan alunan suara yang terdengar seakan melapangkan dada Ku yang semula begitu penuh sesak. Akan tetapi terlihat mimik wajah mas Parjo dalam memberikan pengertian kepada Ku seakan menyisakan keraguan dan kesedihan yang terpancar dan itu mungkin tak disadari olehnya. Tapi Ku biarkan kesangsian Ku tersebut terendam oleh permainan kata-kata mas Parjo yang sedang Ku coba tuk ikuti.
Lha, mas Parjo sendiri kenapa balik ke Negeri ini, apakah karena kontraknya telah berakhir atau karena di deportasi oleh negeri Malaysia? Waduh Tik, kalau Saya mendingan pulang dari pada Saya terjaring oleh Polisi Malaysia itu, lagian Saya juga tidak ada tempat tuk bersembunyi, tidak seperti mamas Mu yang dijamin oleh pemilik pabrik tempat Dia bekerja. Jadi dari pada Saya ikut bersembunyi bersama teman-teman di hutan-hutan dan perkebunan-perkebunan lebih baik Saya pulang ke Negeri ini kembali walaupun gaji dua bulan yang lalu belum Saya terima.
Sementara Kedutaan Negeri ini bertindak seperti apa Mas, tanya Ku. Negeri ini tak dapat berbuat apa-apa, sebab Pemerintah Malaysia hanya menjaring pekerja-pekerja yang ilegal sehingga kalau Pemerintah Negeri ini melawan atau berusaha untuk melindungi lebih jauh, para pekerja ilegal tersebut mungkin akan berdampak pada pemutusan hubungan kerja antar kedua negeri, jadi tindakan yang diambil oleh Kedutaan Negeri ini hanya bersifat melobi-lobi, bagaimana Rakyat Negeri ini tidak mendapat sanksi yang berat, paling itu saja.
Oh iya, Saya kelupaan. Sembari menampakan sebuah kotak yang dibungkus oleh kertas koran dari tas yang ada dipangkuan mas Parjo. ini ada titipan dari mamas Mu dan didalamnya ada se utas surat. Nah kalau isi surat itu Saya tidak tahu dan bahkan tidak ingin tahu. Ku raih dengan penuh tanya apakah benar apa yang disampaikan oleh mas Parjo tentang kabar Suamiku. Sebab tak seperti biasa ia memberikan kabar yang bersifat pribadi melalui teman-temannya, biasanya ia memberikan kabar tersebut lewat pos. Dalam hening senja yang sebentar lagi tenggelam, Tak Kuduga kedua anak-anakku telah hadir mendekati Ku, Meraka pun tak lupa dengan pertanyaan yang selalu Mereka tanyakan kepada Ku “ibunya”.
Wah ada paman Parjo, ka..ika ada paman Parjo ka, Praja memanggil embaknya sembari melihat kedalam rumah guna menyakinkan embaknya tersebut. Sepintas kilat Tika berlari menuju teras tempat dimana mereka semua berkumpul. Meraka berdua melihat-lihat disekitar teras rumah seakan-akan ada yang hilang atau yang tak biasa. Mas Parjo yang melihat tingkah laku kedua anak Ku yang cilingak-cilinguk tersebut langsung bertanya, Tika dan Praja cari siapa, kok matanya melirik kemana-mana. Ayah mana Paman, tanya kedua anak Ku tersebut. Oh Tika dan Praja melirik kemana-mana tadi itu untuk mencari Ayah, Ayah kalian belum bisa balik kemari, bukannya Tika dan Praja ingin dibelikan sepeda buat berangkat kesekolah, iyakan, Tika dan Praja ingin dibelikan sepeda kan, tegas mas Parjo. Jadi ayah kalian masih berada disana untuk membelikan sepeda buat kalian anak-anaknya. Kok tidak dibelikan disini saja Paman, kilah Tika. Kan disinikan banyak juga sepeda yang dijual, kalau dibelikan di sini berarti Ayah balik kemari dan Kami pun sangat senang. Oh iya, paman Parjo sudah pernah bilang seperti itu pada Ayah kalian, kenapa tidak dibelikan disini saja, tapi Ayah kalian bilang kalau sepeda disana itu lebih bagus dan menarik. Oh jadi Ayah mau membelikan kami sepeda yang bagus dan menarik disana, tanggas Praja. Iya jadi gitu Praja, lanjut Paman. Tapi Paman kalau seperti itu mendingan Kami dibelikan sepeda disini saja Paman dari pada Kami dibelikan sepeda yang bagus dan menarik dan kalau seperti itu kan Ayah tidak usah pergi lagi ke Malaysia, ungkap Tika. Iya nanti paman sampaikan pesannya kalau Paman ke sana lagi, tutup Paman dengan lekas-lekas sembari meringkasi barang bawaannya dan tak sabar tuk pamitan meninggalkan keluarga Ku.
Sementara waktu jam terus bergerak dan Kulihat malam telah tiba, Mahgrib pun datang mengetuk pintu rumah melalui suara azan yang dikumandangkan dari tiap-tiap langgar yang ada didesa Ku, dijalan-jalan terdengar langkah-langkah kaki mereka beduyun-duyun menyamperi dimana Asma Tuhan disuarakan. Sementara aku menutup pintu dan bergegas mengajak kedua anak Ku tuk masuk ke dalam rumah dan tak lupa Ku bawa bingkisan yang terbungkus kertas koran tersebut.
Tak sabar perasaan ini tuk mengerti apa yang dipesankan oleh Suamiku melalui suratnya yang dititipkan lewat teman dekatnya. Ku buka kertas koran yang menyelimuti bingkisan surat itu, Ku sobek satu persatu dan terlihat tak berbentuk lagi tulisan-tulisan yang di beritakan oleh koran tersebut. Nampak sedikit bagian dari surat tersebut dan Aku pun langsung mengambilnya sementara kedua anak-anak Ku memperhatikan apa yang Ku perbuat dengan sedikit tanda tanya di mata mereka mengapa Ibu bersedih.
Kuraih surat itu dan Ku baca satu persatu kata-kata yang tertulis dalam kertas tersebut dan tak akan kulewati satu huruf pun agar semuanya jelas namun Ku coba ulangi kembali, Ku baca kembali isi surat itu seakan tak percaya apa yang ditulis mas Tirta dalam surat ini, sementara mimik wajahku semakin menyendu dan mata Ku semakin sayu terasa jelas kalau kedua mata Ku semakin memberat seakan awan hitam yang tak tahan lagi tuk menurunkan hujan.
Ia beristri lagi dengan seorang janda dari pemilik salah satu pabrik tekstil ternama di Malaysia dan itu telah berlangsung selama satu tahun yang lalu. Dikarenakan oleh tuntutan kehidupan yang kami alami, Ia tak tahan dengan begitu menghujamnya segala kebutuhan akan hidup dizaman sekarang ini, dan ini dilakukannya semata-mata untuk membahagiakan Aku dan kedua anak-anak Ku, Tika dan Praja. Ternyata benar dugaan Ku bahwasanya apa yang diceritakan oleh mas Parjo itu hanya sebagai penenang diriku disaat Aku mulai membaca surat ini. Tapi apa yang diusahakan oleh mas Parjo itu tak berhasil dan Aku pun semakin mengikuti alur perasaan ku ketika Aku membaca surat itu. Tak sadar diriku, ternyata anak-anak Ku telah berulang kali bertanya padaku, kok ibu bersedih dan menangis? Ungkap mereka. Namun mereka justru semakin membuat diriku terendam dalam perasaan Ku. Aku pun tak ada keinginan untuk menjawab pertannya yang dilontarkan oleh anak-anak Ku.
Duduk Ku, bersama kedua anak-anak Ku sambil merangkul mereka dan tak terasa pipi Ku talah basah oleh air mata dan isak tangis pun berkumandang dari anak-anak Ku seakan-akan ia ingin menyaingi suara azan, sesekali Tika bertanya kenapa Ayah pergi dengan suaranya yang mulai sedikit sendu dan terpotong oleh isak tangisnya. Praja yang berada di sisi kanan dalam pelukkan Ku menagis hingga air matanya membasahi disisi kanan payudara Ku. Kini apa yang menjadi ketakutanku selama ini ternyata benar-benar tiba dan hadir dalam hidupku dan juga kehidupan anak-anak Ku. Seakan apa yang telah terjadi sebelum surat ini tiba merupakan keadaan dan kondisi Ku yang nyata dan akan seperti itu selalu kehidupan yang kujalani bersama kedua anak-anak, walaupun mas Tirta setiap bulan selalu mengirimi uang buat kebutuhan sehari-hari aku dan kedua anak-anak Ku.
By. Wong Alit
Senin, 18 Agustus 2008
Malam Bersama Penindasan
Malam itu, bintang tak malu-malu menampakkan sinarnya dan angin tersipu malu ketika diri ku keluar dari pintu rumah ini. Seketika langkah kaki ini seakan mengerti kemana diriku ini hendak pergi, kutinggalkan semua yang selalu mengintaiku saat ku berada di rumah itu, berharap ia tak mengikuti ku. Dengan langkah ketakutan layaknya ombak laut yang bergulung-gulung siap menenggelamkan diriku dalam ketinggiannya yang tak terbayangkan oleh ku.
Sejenak ku terhenti melangkah, kulihat warung embak Ijah telah ramai dipenuhi oleh pemuda-pemuda kampung yang datang hanya untuk berkumpul dan berbincang-bincang mengenai permasalahan-permaslahan yang mereka rasakan sambil menikmati makanan yang dijajakan beserta kopi dan teh.
Kulihat ada Egi diantara pemuda-pemuda tersebut yang sedang meminum kopi dan bebincang-bincang dengan Sular. Penasaran, langsung saja Ku samperi mereka untuk ikut dalam lantunan perbincangan mereka. Baru beberapa lama Ku ikut dalam perbincangan mereka mengenai akan digusurnya pemukiman penduduk di desa Telagadadi sebab pemukiman tersebut merupakan lahan milik negara dan negara memberikan ijin kepada PT Puing dalam hal pembuatan gedung pabrik. Sehingga sekarang Masyarakat telagadadi merasa resah dengan akan diadakanya penggusuran tersebut. Dalam hatiku pun mengatakan bagaimana dengan desa Kami apakah nantinya juga akan mengalami apa yang sekarang sedang dialami oleh masyarakat yang bermukim didesa Telagadadi.
Munculah sesosok pemuda yang berteriak dengan lantang didepan Kantor Kecamatan yang berada tidak jauh dari warung embak Ijah, sementara keadaan didalam kantor ramai oleh pejabat desa yang sedang membahas masalah penggusuran desa telagadadi. Tanpa rasa takut pemuda tersebut meneriakkan semua apa yang dia resahkan, pemuda tersebut tak lain ialah Tri putro “teman SMA ku dulu yang sempat mau dikeluarkan oleh fihak sekolah karena membeberkan kasus pelecehan kepala sekolah terhadap siswa-siswinya”. Teriakannya dimalam itu seakan berbentuk syair-syair kekhawatiran, dengan berbekal sebuah mikropon ia mulai teriak bersama kekhawatirannya itu.
“Kau senang berada di sini bersama orang-orang yang mendukung mu, apalagi setelah tanah air ini diberi suatu kemerdekaan yang tak terlepas dari para pendahulu-pendahulu mu yang mau dan ingin memperjuangkan kemerdekaan tersebut. Kini mereka “pendahulu-pendahulu mu” menjadi pahlawan perjuangan, namun itu hanya dalam ingatan mu, sebab kau mengulangi kembali suasana dan keadaan seperti dulu, dengan memberi beban pada orang-orang kecil yang untuk makan saja mereka harus memikirkan anak-anaknya ataupun saudara-saudaranya yang lain apakah mereka dapat makan hari ini, apakah rentenir-rentenir datang menagih atau dapatkah anak-anaknya melanjutkan jenjang pendidikannya. Belum lagi betapa sulitnya mereka memperjuangkan hak-haknya, dimana tanahnya dipergunakan untuk pembanguanan pabrik-pabrik yang begitu angkuhnya, sebabs dengan ganti rugi yang tidak seimbang, belum ditambah lagi dengan biaya pendidikan yang meningkat, mana hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Sementara kau dengan mudah bicara di media massa dengan dalih bahwa itu semua untuk kepentingan mereka, kau dengan pendidikan dan kepandaian mu yang licik dan picik, kau hadapkan mereka pada permainan sandiwara mu, masa bodoh kata yang terlontar dari mulut mu, yang jelas kepentingan mu harus dapat tercapai, dengan begitu sebenarnya kau tak tahu bahwa kau telah menjajah bangsa mu sendiri”.
Begitu kerasnya nyanyian syair-syair kekhawatirannya, sehingga kami yang berada di warung tersebut tak berhenti menatap kearahnya. Sementara itu dari dalam kantor nampak seorang pajabat yang berdiri di depan pintu kantor dengan membawa beberapa pegawai kecamatan untuk mengamankan pemuda tersebut, pejabat yang berdiri tersebut tidak lain adalah pak camat itu sendiri. Tri yang berhadapan dengan beberapa orang pegawai kecamatan yang membawa pemukul dan pentungan, tidak membuat nyali tri ciut. Ia masih saja meneriakan syair kekhawatiran dari penduduk kampung Telagadadi walaupun pegawai kecamatan tersebut memperlakukannya seperti penjahat yang harus dibumihanguskan dari muka bumi ini.
Malam tingalah malam dan syair-syair Tri telah tenggelam bersama dinginnya malam sebab penindasan tak akan pernah berhenti dan akan selalu bersinar bersama matahari serta penindas-penindas akan terus menelurkan generasi-generasinya yang tak kalah hebatnya dari pendahulu-pendahulunya. Tri putro bersama teriakkan syair-syair kekhawatiran apakah dapat bertahan dalam kokohnya penindasan dan penjajahan dimasa yang akan datang.
By.Wong Alit
Jumat, 15 Agustus 2008
Mimpi Seorang Hamba
Sehabis impian ini terwujudkan, Hamba akan membawa nya kehadapan Paduka, Paduka yang tak memiliki selir-selir yang selalu dekat bersama Paduka terkecuali seorang Permaisuri yang selalu tegar mendampingi Paduka dan Ia pun tak ingin sedetik pun lengah untuk berjuang bersama Paduka mempertahankan Kerajaan yang telah Paduka bangun. Ia pun merupakan perhiasan yang selalu memberikan ketakjuban buat Kerajaan yang tak berahta di hati semua orang namun hanya bertahta pada hati Hamba dan Saudara-saudara hamba. Ia merupakan mutiara hitam yang tersimpan di kedalaman relung-relung Kerajaan yang dibangun dengan pondasi saling percaya, bertonggakkan kejujuran, berdindingkan kasih sayang dan cinta. Paduka yang selalu memberikan pengertian-pengertian dari hal-hal apa saja yang sedang Hamba alami, Paduka layaknya sebuah pena yang menggoreskan dan melukiskan setiap pengetahuan pada diri Hamba dan Saudara-saudara hamba “jiwa yang polos”, Paduka pula lah yang mengajarkan pada Hamba bagaimana kita memberi arti pada kehidupan ini. Meskipun belum sepenuhnya apa yang Paduka berikan kepada Hamba itu dapat Hamba lakukan, Paduka begitu berartinya bagi Hamba.
Mimpi itu! Mimpi itu yang merengut kedekatan Hamba bersama Paduka, entah kapan kedekatan itu datang kembali dan menghiasi suasana kehidupan Hamba dan Paduka. Hari berganti dan musimpun terus berputar sementara Hamba telah berada pada tempat yang berbeda. Adakah rasa rindu yang muncul di antara Hamba dan Paduka dapat menghambat perjuangan Hamba tuk mencapai impian?
Semenjak kerajaan itu Hamba tingalkan, pergi entah untuk waktu yang berapa lama. Kedekatan yang Hamba rasakan itu pun sedikit demi sedikit mulai surut dan menyusut, ini terbukti dengan banyaknya wasiat-wasiat yang Paduka bekalkan pada Hamba telah terbuang dan berceceran seiring jejak langkah kaki ini. Di sini, wasiat-wasiat yang Paduka berikan pada Hamba itu tak mampu bertahan di dalam jiwa Hamba. Sementara, di satu sisi Hamba pun tak mampu mempertahankannya. Sebab dunia yang Sekarang Hamba hadapi telah mengalami perubahan dan perubahan itu mesti terjadi, walaupun semua tangan berusaha tuk menghentikannya. Ini bukanlah salah siapa-siapa, namun ini merupakan tahap pembelajaran, pembelajaran yang tak pernah ada hentinya.
Ditempat ini, tempat dimana Hamba merasa tak seorang pun mengenali dirinya, terutama diri Hamba yang tak tahu siapa sebenarnya Hamba. Itu disebabkan oleh begitu indahnya ukiran pedang kehancuran yang berkilau dimata yang siap memisahkan kepala dari tubuh ini. Namun Hamba tak tahu apa yang terjadi pada jiwa Hamba jika wasiat-wasiat yang Paduka berikan tak Hamba dapatkan terlebih dahulu, walaupun Hamba sempat memandang wasiat-wasiat yang Paduka berikan hanya sebagai dongeng pengantar tidur yang siap meninabobokan kehidupan Hamba atau pelipur lara dalam kehidupan seorang Fakir.
Mengapa Hamba sampai berpandangan seperti itu terhadap wasiat-wasiat yang Paduka berikan? Hamba pun tak mengerti. Itu semua terjadi mungkin dikarenakan oleh ketidakpahaman Hamba pada hakekat dari wasiat-wasiat yang telah Paduka berikan atau karena ketidakutuhan Hamba dalam menerima wasiat-wasiat yang Paduka sampaikan dan untuk mengutuhkan atau menyempurnakan wasiat-wasiat yang telah Paduka sampaikan, maka Paduka menyarankan Hamba untuk pergi meninggalkan Paduka dan coba tuk lihat seperti apa dunia luar itu. Dunia yang tak dapat untuk diterka atau dikira-dikira atau lebih jauh lagi untuk dapat memastikan mana yang benar atau yang salah, yang baik atau yang buruk, mana yang patut dipercaya atau yang tidak patut untuk dipercaya. Sementara Paduka telah menanamkan nilai-nilai yang terkandung dalam wasiat-wasiat tersebut kedalam diri Hamba agar tumbuh subur, berkembang dan berbuah. Namun Hamba tak dapat sepenuhnya tuk merawat dan memelihara nilai-nilai yang terkandung dalam wasiat itu, sebab Hamba tak pernah menyirami nilai-nilai itu akan tetapi justru mencabutinya.
Kini hanya tinggal penyesalan atas apa yang terlah berlalu terhadap diri Hamba, Hamba mencoba menggali kembali wasiat-wasiat itu, siapa tahu masih ada nilai-nilai yang terkandung didalam wasiat itu yang dapat Hamba rawat dan pelihara dalam keterpisahan Hamba dan Paduka. Hamba mencoba tuk mencari kembali benih-benih yang pernah Hamba sia-siakan, benih-benih yang telah Paduka tanamkan dan menghilang lenyap dimakan oleh keangkuhan dan kesombong Hamba yang telah menyepelekan apa yang Paduka tanamkan melalui wasiat-wasiat tersebut.
Semenjak Hamba berpisah dan pergi meninggalkan Paduka demi suatu mimpi yang keberadaannya ada pada setiap atap-atap pikiran Hamba dan Hamba pun mulai terlarut dalam mimpi-mimpi itu. Kini mimpi-mimpi itu tak memiliki kesempurnaannya lagi dan itu dikarenakan oleh keterpisahan yang terjadi diantara Hamba dan Paduka. Tapi untuk mewujudkan mimpi itu didalamnya terkandung suatu perpisahan dan ini mungkin dapat dibilang suatu hukum kemutlakan yang diperuntukkan kepada Hamba setelah Hamba menerima beberapa wasiat yang Paduka berikan untuk diterapkan dalam menjalin cerita tentang kehidupan Hamba. Selanjutnya Hambalah yang akan menentukan seperti apa jalinan perjalanan kehidupan yang nantinya Hamba ukir pada setiap jejak jejak langkah yang Hamba pilih.
Hamba teringat akan nasehat yang pernah Paduka sampaikan dimana saat itu Hamba sedang mengalami perasaan yang susah untuk diungkapkan akan tetapi perasaan itu membuat Hamba tak mampu lagi tuk bermimpi ataupun tuk memiliki suatu keinginan, sebab pada waktu itu Hamba berkeinginan untuk belajar Strategi Perang dan bermimpi tuk menjadi Panglima Perang yang tangguh dan selalu menguasai setiap peperang yang terjadi dimedan perang. akan tetapi mimpi dan keinginan itu tak pernah terjadi walaupun latihan telah berkali-kali dilakukan namun Hamba tetap tak mampu untuk dapat menguasai medan peperang dan belajar strategi perangpun seakan percuma. Hingga saat itu Hamba merasakan akan kepasrahan dan meninggalkan segala bentuk mimpi-mimpi yang ada dan juga semua keinginan yang pernah singgah pada jiwa Hamba.
Hamba pun tak tahu ternyata Paduka memperhatikan perubahan yang terjadi pada diri Hamba. Berawal dari kebiasaan Hamba di waktu sore tiba, Hamba berlatih pada seorang Guru di Padepokan Istana dan dimana Hamba berada kapanpun jua Pedang Pusaka Kerajaan selalu dalam genggaman Hamba, namun setelah perasaan itu muncul Hamba tak pernah lagi untuk latihan dan Pedang Pusaka Kerajaan pun telah Hamba kembalikan pada Paduka dan itu pun tanpa sepengetahuan Paduka.
Perubahan yang terjadi pada diri Hamba membuat Paduka bingung dan ingin mengetahui mengapa sikap Hambanya berubah. Selanjutnya Hamba dipanggil oleh Paduka guna menjelaskan apa sebenarnya yang terjadi pada diri Hamba, Hamba pun menjelaskan dengan gamblang apa sebenarnya yang terjadi hingga membuat Hamba menjadi seperti ini.
Paduka kan tahu, apa sebenarnya yang menjadi mimpi Hamba selama ini, Tanya seorang Hamba pada Padukanya. Tanpa memberikan kesempatan kepada Paduka untuk menjawab, si Hamba tersebut langsung menjawab sendiri pertanyaan itu. Tak lain ialah ingin menjadi seorang ahli dalam merencanakan Strategi Perang, pandai membaca taktik lawan dan kemudian mencari tahu dimana titik-titik kelamahannya yang selanjutnya merencanakan berbagai strategi untuk melawan setiap musuh yang berani mengusik ketentraman Kerajaan.
Hamba menunduk, suasana menjadi sunyi untuk sesaat, sementara Paduka duduk di atas tahtanya memandang Hamba dengan mimik wajahnya yang tetap mencitrakan kewibawaan dan keagungan dihadapan Penasehat-penasehat Kerajaan dan Senopati-senopati Kerajaan. namun ditengah-tengah mereka Hamba memiliki pandangan yang berbeda terhadap Paduka, Paduka tak layak menjadi sorang Raja untuk Hamba, lirih dalam hati Hamba.
Hamba kemudian mencoba tuk memberikan penjelasan kembali di hadapan Petinggi-petinggi Kerajaan, atas perubahan yang terjadi pada diri Hamba. Kini, telah berapa musim yang dilalui oleh mimpi itu dan berapa kali peperangan terjadi yang terlewatkan begitu saja oleh mimpi itu. Berapa pohon anggur yang telah tertanam dan kemudian dipanen oleh Kerajaan ini, sementara mimpi itu masih saja mendekam pada posisinya semula. Mimpi itu tak berubah dan tak mengikuti perubahan musim walaupun mimpi itu melaluinya dan juga, mimpi itu tak dapat merasakan manisnya anggur sebab manisnya mimpi itu tak pernah diharapkan oleh Kerajaan ini.
Hamba tersebut tertunduk kembali, setelah mengungkapkan apa yang menjadi penyebab perubahan pada kehidupan Hamba. Namun sebelum Hamba menundukan kepala, tanpa sengaja pandangan Hamba menyisir keseluruh barisan Punggawa-punggawa Kerajaan yang berdiri membentuk lingkaran. Sementara semua Punggawa Kerajaan yang hadir saat itu memandang Hamba dengan sedikit kekecewaan, sebab mereka semua tak menduga bila seorang Hamba dari kerjaan ini begitu lemah dan rapuh sekali dalam menghadapi kenyataan yang terjadi.
Setelah panjang lebar mengungkapkan kejadian itu, Hamba melihat Paduka yang duduk ditahtanya tersenyum setelah mendengar penjelasan yang Hamba ungkapkan. Belum juga usai Paduka bersenyum, Paduka beranjak dari Tahta dan kemudian berdiri melangkah menghampiri Hamba. Seiring langkah kaki Paduka, senyuman itu pun sedikit demi sedikit lenyap dan kemudian menghilang saat Paduka berada tepat di hadapan Hamba. dan selanjutnya Paduka berucap “kehidupan itu tak akan memberikan hadiah jika kau tak berusaha” dan selanjutnya Paduka mengungkapkan “jika kau berani tuk bermimpi maka kau juga patut berani tuk menghadapi kenyataan,”
By. Wong Alit
Rabu, 13 Agustus 2008
Perangai Si Cinta
Tak terduga
Belati itu hinggap di dada
Hanya karena cinta
Hilanglah sebuah nyawa
Terbakar api cemburu buta
Karena cinta jua lah
Kerusakan dan keburukan tetap ada
Tak usah dirisaukan adanya
Cinta tak hanya indah
Hadirnya tuk memperindah perangai kita
By. Wong Alit
Selasa, 05 Agustus 2008
Berbagi Award
Award
Kedai Kebebasan
Di kedai ini, pikiran menggerayang
Dari helai rambut hingga ujung kaki persoalan
Liar.. mungkin atau tak beraturan
Tapi ekspresi tak begitu mengekang
Di kedai ini, kebebasan itu ada
Di kedai ini pula tercipta satu dalam keberagaman
Yang tahu bukannya sok tahu
Yang bodoh bukannya sok bodoh
Di kedai ini, bukan di tembok-tembok kelas
Yang hanya menutup mata atas problema
Membatasi diri untuk kepentingan penguasa
Hingga terjadilah kelumpuhan, kelumpuhan itu
By. Wong alit
Cinta Kita
Masa itu, masa kita berpadu
Dan kini, aku, kau dan semuanya berlalu
Senyuman, umpatan, cacian dan canda tawa
Tersimpan dalam bingkai kenangan kita bersama
Begitupun dengan tangis, kesal, marah dan manja
Kemarin kembali terlihat bayangan nya
Telah sekian lama dan kini berjumpa
Masihkah dapat kembali tercipta
Cinta yang lalu dan pernah dirasa
Ingin ku raih kembali
Apa-apa yang pernah kita jajaki
Bersama cinta kita berbagi
Bersamanya pula kita akhiri
Aku tak ingin perbedaan, kesenjangan dan keterasingan
Selalu jadi teror dalam kehidupan
Karena hanya sejenak kita berdiri
Jadi, biarlah cinta yang mengayomi
By. Wong alit
Aku Dan Bidadari
Ia yang dipuja telah tiba
Di ujung senja dan rintik-rintik hujan
Di ujung penyelewengan dan harapan tuk kebahagian
Keinginan, lagi-lagi tak selaras terhadap realita
Tiba-tiba aku tercengan
Ia bertolak, membelakangi wajah kelam
Dan berucap “aku bukanlah sesuatu yang kau inginkan”
Hadir ku hanya dalam khayalan saja
By. Wong alit
Langganan:
Postingan (Atom)
